Powered by Blogger.
TEENS SAVIOR
    • Arts & Entertaiment
    • High School Guidebook
    • Random Talk
    • Home
    • Tips and Trick
    • Storiette
    • Fashion & Beauty
    • Lifestyle

    My mom took this picture :)

    Matanya mendelik ke kanan dan ke kiri seolah mencari lokasi yang pasti. Dibenarkannya rok lilit batik itu sembari memposisikan headphone yang 100% kuyakini bagian dari aksesori.

     

    Di sisi kiri, terlihat dua pasangan sejoli. Ayolah, kau tidak boleh mengatakan bahwa aku berprasangka buruk atau curiga yang tidak-tidak. Aku yakin betul bahwa gadis itu bersama belahan jiwanya, bukan sekadar teman, sahabat, ataupun kakak kandung, kakak sepupu, apalah istilahnya. Intinya, perlakuan yang diberikan berbeda dan itu sangat jelas terlihat. Aku merasa tertekan, ternyata perpustakaan bisa dijadikan sebagai tempat kencan.  

     

    Cih, malas melihat adegan Cinta dan Rangga, lebih baik berbelok ke bilik Sastra Indonesia.

     

    Di sana, sekumpulan gadis remaja sibuk memperagai orang yang sedang mengambil buku, dibantu temannya untuk mengabadikan momen tersebut. 

     

    Di sisi lain, terdapat pria yang sudah menaruh tripod dengan manis nya, oh Tuhan.

     

    Bagian mananya dari kata perpustakaan yang kalian tidak paham? 

     

    Aku pergi mengambil buku bacaan yang akan ku baca dan memilih tempat dipojok dengan jendela, dengan alasan aku tidak perlu berinteraksi dengan orang sekitar, alasan kedua yang sebenarnya merupakan alasan utama karena ada tempat charger, semua tau itu.

     

    Ku ambil buku, kemudian kubaca lembar demi lembar, cekikikan. Di samping ku, terdapat ibu yang sedang membacakan cerita kepada anak kecil, sungguh tenang batinku. 

     

    Ah iya, aku lupa bercerita tentang orang-orang yang menemaniku.

    Tentu saja ibuku serta adikku yang pergi karena ada ruangan bermain anak-anak yang dia tonton di televisi.

     

    Sudah buang saja asumsi tentang ibu yang sedang membacakan cerita kepada anak kecil itu adalah ibuku.

     

    Sejujurnya aku tidak berharap banyak dengan wanita usia senja yang membaca buku Sangkuriang. Sekali lagi, membaca buku Sangkuriang yang rasanya sudah dibacakan sejak dini, ratusan kali. Sulit untuk kupercayai, tetapi ibu saya sendiri hanya membaca cerita Tangkuban Perahu itu di perpustakaan yang kami tempuh sejauh lebih dari 20km dari rumah. Bagaimana dengan adikku? Ya dia menjalani perannya sebagai anak kecil yang menghidupkan suasana perpustakaan.

     

    Setelah menghabiskan sekitar dua jam, kala itu hujan, aku jadi terbawa suasana, sepertinya bagus apabila aku mengambil dokumentasi, setidaknya memberitahukan penduduk bumi bahwa aku pernah mampir di tempat ini.

     

    Aku mengeluarkan gawai untuk mengambil gambar dari berbagai sisi, walau bukan fotografer yang handal, tapi aku paham komposisi. Seketika pria berkalung yang kuyakini sebagai petugas mencolek ku pelan.

     

    "Permisi kak, ini buku kakak?" Sambil melihat buku bergambar dinosaurus di depan ku, lebih tepatnya arah barat laut.

     

    "Bukan" jawabku kikuk.

     

    "Saya ambil ya."

     

    "Silahkan."

     

    Ah tidak, aku tidak tau bagaimana cara menggambarkan rasa malu yang kualami, dari sekian banyak waktu, kenapa harus datang disaat aku sedang memotret. 

     

    Aku menyesalinya karena saat ini aku merasa seperti bagian dari mereka, yang tidak paham dengan konsep perpustakaan.

     

    **

     

    Hai! Kangen  banget nulis di blog berdebu ini. Maaf penulisnya hiatus, kira-kira udah dua tahun ya? Ya intinya ini pengalamanku pergi ke perpustakaan yang hits itu loh. Aku baru nyadar, cerita aku julid banget ya HAHAHAHAH. No offense to anyone yang menjadikan perpustakaan menjadi bahan estetika foto, sejujurnya ibu saya yang membaca cerita Sangkuriang sampai khatam itu pun waktu pertama kali datang langsung memotret kami bersama patung Ismail Marzuki, baiklah. Toh semua orang punya kepentingan dan kebahagiannya masing-masing dan tidak ada yang salah dengan hal itu :). Jadi, kalau kamu sendiri udah mampir belum? terima kasih sudah membaca, see you ðŸ’›ðŸ‘‹

    Continue Reading

    "Hai semuanya, nama gue Putik.  Job Desc gue sutradara."

    Kalimat itu gue ucapin setahun yang lalu mungkin, gue bukan expert dalam film ya, tapi bukan berati gue buta dalam perfilm-an. Gue cuma mau sharing aja gimana rasanya jadi sutradara yang filmnya ditonton khalayak ramai padahal gue cuma bagian dari keluarga besar sinema 60.

    Pertama kali gue jadi bagian dari Sinema 60 gue memilih untuk jadi sutradara. Yang terbesit dibenak gue ketika mendengar kata sutradara berati jantung sebuah film, tetapi itu pendapat gue pribadi ya. Karena dalam suatu film semua yang terlibat itu penting. Mulai dari penulis naskah, produser, editor, penata artistik, dan lainnya.

    Gue mikir kalau jadi sutradara seenak itu, karena ini film gue, jadi terserah gue. Suka-suka gue juga bakal kayak gimana hasilnya.

    Karena terlalu menganut paham "terserah sutradara" gue jadi bikin film kewalahan sendiri. Waktu itu salah satu program sinema 60  3MMC  atau three minute movie challange. Disitu kita buat short movie dengan durasi 3 menit. Pada tahap produksi gue semangat 45. Castnya siapa aja deh yang mau, gaperlu yang namanya breakdown script, menyusun director shot/shooting script, apalagi bikin storyboard film. Kerajinan menurut gue.

    Alhasil setelah film itu ditayangkan gue rasanya mau ngumpet di balik tembok cina atau sekalian  pindah aja lah gue ke mars. Gue se-shock itu melihat hasil karya gue sama temen-temen gue. Satu-satunya yang bisa dibanggain cuma poster film, itupun hasil karya temen gue yang berhasil masuk nominasi poster terbaik. Sekali lagi, temen gue. Bukan gue.

    Darisitu gue malu banget, semalu itu, sampai akhirnya gue belajar bagaimana jadi sutradara yang baik mulai ikut mentoring sampe ikut workshop. Dan gue beruntung banget kalau kakak kelas gue di sinema 60 sebaik itu, mau ngebantu gue dan temen-temen gue.

    Gue belajar untuk jadi sutradara yang  tanggung jawabnya besar, karena sutradara itu orang yang bertanggung jawab mulai dari pra-produksi, produksi, dan pasca produksi. Selain itu sutradara juga orang yang memvisualisasikan sebuah naskah menjadi suatu karya yang wah.

    Sebelum produksi, sutradara harus sudah bisa memvisualisasikan apa yang ada dikepalanya membayangkan dari awal sampai akhir atau biasa disebut visi.  Apalagi storytelling nya harus dapet karena film sebagai wadah sutradara bercerita. Penggunaan shot nya harus memiliki arti serta emosi yang ditimbulkan, bukan hanya ingin terlihat keren semata. 

    Gue belajar tipe-tipe shot, mulai dari untuk apa sih close up, wide shot, over shoulder shot, dan masih banyak lagi. Gue juga belajar untuk bikin storyboard. Selain itu, gue juga belajar departemen  yang lain, gue belajar teknik-teknik dasar editing, belajar juga jadi anak art dan script writer, dengan begitu gue lebih mudah menyampaikan visi gue ke temen-temen yang lain. 

    Lantas  bagaimana film gue selanjutnya?

    Secara teori harusnya bagus dong, kan gue udah belajar ilmunya. Apalagi naskah yang diangkat bikinan gue sendiri, dan filmnya bergenre horror, which is genre favorit gue. 

    Lagi-lagi gue kecewa dengan diri gue sendiri, gue merasa film gue ga layak tayang, editor gue juga pasti muak ngerjain project yang emang jelek. Sementara itu, gue masih memaksa dia untuk memperbaiki kesalahan gue, yang sebenernya udah gabisa ditolong.

    Gue ga nyerah gitu aja, gue tetep usaha untuk cari referensi, gue tonton film dari mancanegara, gue belajar dari kesalahan-kesalahan gue sebelumnya. 

    Gue produksi film lagi, dan ya gagal lagi.

    Sampai akhirnya pelatih sinema gue membangkitkan semangat gue, beliau bilang film yang kita produksi bisa dikirim ke festival, terlepas dari bagus atau enggaknya. 

    Gue semangat banget, gue merasa gue harus lakuin semua yang gue bisa. Film tersebut kelar dalam sehari, iya sehari. 

    Waktu produksinya selesai gue seneng banget, sebahagia itu sampe gue lupa kalau gue harus melakukan evaluasi materi editing yang udah diedit, koreksi warna, dan ilustrasi musik, itu tingkat short movie, gue ga kebayang gimana film layar lebar. 

    Lanjut ya, gue bahagia banget karna hasilnya ga terlalu mengecewakan. Berdasarkan saran pelatih gue, gue pun memberanikan diri untuk mengirim film ke festival lampung, walaupun ga juara karena saingannya yang gila, gue tetep bahagia karena kata pelatih gue setidaknya film gue ditonton sama khalayak ramai.

    Setelah gue evaluasi, ternyata masih ada lagi kesalahan gue yaitu transisi. Transisinya kayak power point terlalu banyak fade black. Ya kali ini setidaknya gue berani nampilin muka atas karya gue dan temen-temen yang lain. 

    Itu semua gue anggap pelajaran yang berharga, walaupun berat, gue ga nyesel untuk jadi sutradara. Gue bahagia buat sharing ilmu gue ke temen-temen yang lain. Gue bukan sutradara yang hebat, yang filmnya dikenal sama semua orang tapi gue bangga dengan karya gue sendiri dan mau berkarya lebih, semakin gue belajar dan mencari tau, gue semakin sadar kalo ilmu gue secetek itu. 

    Intinya, jangan pernah menyerah. Kalau gagal coba lagi, belajar lagi, evaluasi kesalahan, just do it!, untuk menduduki puncak pasti harus menginjak hal-hal dasar bukan?. 




    Continue Reading
    Older
    Stories

    About Me

    My photo
    Teens Savior
    Hai semuanya. Awalnya blog ini menceritakan cara survive jadi pelajar, tapi jadinya random sih. Intinya semoga bermanfaat bagi sesama makhluk hidup ya.
    View my complete profile

    Labels

    • Fashion and Beauty (1)
    • Random Talk (2)
    • Tips and Trick (4)

    Find Me On Social Media

    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Featured Post

    INTRODUCTION

    Blog Archive

    • January 2023 (1)
    • March 2021 (1)
    • October 2020 (1)
    • May 2020 (1)
    • December 2019 (1)
    • October 2019 (1)
    • March 2019 (1)
    • September 2015 (1)

    Translate to your language

    Hai yuk tinggalkan pesan :)

    Name

    Email *

    Message *

    Youtube Instagram

    Created with by BeautyTemplates - Protemplateslab.

    Back to top